Home Ekonomi & Bisnis Penyaluran BPNT di Kelurahan Padasuka Diduga Disunat dan Tidak Tepat Sasaran

Penyaluran BPNT di Kelurahan Padasuka Diduga Disunat dan Tidak Tepat Sasaran

118
0
Warga Kelurahan Padasuka Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung keluhkan BPNT nilainya tidak sesuai dan tidak tepat sasaran.

Bandung (PI) – Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) program dari Kementerian Sosial, yang disalurkan melalui Dinas Sosial kembali menuai masalah. Hal ini dialami warga penerima BPNT di Kelurahan Padasuka Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Penyaluran Bantuan yang diserahkan di tempat kantor Kelurahan Padasuka Kecamatan Cimenyan Kab.Bandung pada Senin (13/4/2020) membuat beberapa  warga penerima BPNT merasa kecewa.  Pasalnya, bantuan yang diterima warga, tidak sesuai nominal yang semestinya sebesar Rp 200.000.

Berdasarkan pantauan Pelita Investigasi, warga Kelurahan Padasuka Keluarga  Penerima Manfaat (KPM) mengeluh lantaran hanya mendapatkan beras 8 kg (kisaran/1 kg Rp 11.000 x 8 = 88.000), telur ayam 8 butir (kisaran Rp13.000), ikan Tongkol 1 kg (kisaran Rp.25.000), ayam ¾ kg (kisaran 22.500). Hal itu berdasarkan harga pasar menurut beberapa warga, apabila ditotalkan yang diterima warga hanya sebesar Rp 148.000. Pembagian BPNT tersebut disaksikan Ibu Wiwi sebagai petugas pendamping.

Keluarga Penerima Manfaat (KPM) hanya mendapatkan beras 8 kg (kisaran/1 kg Rp 11.000 x 8 = 88.000), telur ayam 8 butir (kisaran Rp13.000), ikan salem 1 kg (kisaran Rp.25.000), ayam ¾ kg (kisaran 22.500).

Sementara ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Lurah Padasuka Elang Nurmansyah, S.Hut., mengatakan bahwa di kelurahan Padasuka jumlah penerima manfaat sebanyak 469 KPM.

Elang juga menegaskan, bahwa bantuan BPNT untuk bulan April sudah ada tambahan dari Rp150.000. menjadi Rp200.000.

Penyaluran PBNT di Kelurahan Padasuka disinyalir juga tidak tepat sasaran. Salah satu warga yang kecewa dan mengeluh dengan adanya pencabutan kartu BPNT atas nama  (inisial R) dan dialihkan kepada warga yang dinilai dari keluarga berkecukupan serta tidak layak menerimanya.

“Kami merasa kecewa karena kami tidak mempunyai suami sebagai tulang punggung keluarga, kami dengan adanya pecabutan hak kami oleh pendamping PKH dikasihkan kepada (inisial ON) sedangkan dia masih muda dan berkecukupan,” ujarnya.

Ia juga meminta kepada pengurus jangan tebang pilih. Bantuan pemerintah harus tepat sasaran. “Kami melihat yang menerima bantuan itu ada yang mempunyai kontrakan banyak ada yang di rumahhnya mempunyai motor 4. Ko seperti saya yang gak punya, tulang punggung keluarga dicabut dan dikasihkan orang lain,” ujarnya.

Sementara Team Pelita Investigasi ketika menghubungi melalui seluler Ibu Wiwi sebagai Pendamping BPMT Kecamatan Cimenyan terkait bantuan yang dibagikan kepada PKM mengarahkan agar konfirmasi ke agen yang ditunjuk oleh pendamping. Seolah-olah pendamping tutup mata atas kejadian tersebut dan tidak bertanggungjawab. *(Team Investigasi)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here