Home Politik Rembuk Rakyat PSI: Indonesia Membutuhkan Pemimpin seperti Ridwan Kamil

Rembuk Rakyat PSI: Indonesia Membutuhkan Pemimpin seperti Ridwan Kamil

48
0
Indonesia membutuhkan pemimpin seperti Ridwan Kamil untuk melanjutkan kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab, Gubernur Jawa Barat itu dianggap berhasil memimpin keluarga dan politik.

Jakarta (PI) – Rembuk Rakyat yang diinisiasi Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (DPP PSI) untuk mendengar suara rakyat tentang kandidat tepat penerus kepemimpinan Presiden Jokowi.  Dari Rembuk Rakyat PSI, muncul sembilan nama yang dianggap ideal oleh masyarakat sebagai pengganti Presiden Joko Widodo. Mereka adalah Emil Dardak, Erick Thohir, Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Muhammad Andika Perkasa, Mochamad Ridwan Kamil, Muhammad Tito Karnavian, Najwa Shihab, dan Sri Mulyani Indrawati. Publik bisa ikut berpartisipasi dan menentukan pilihan politiknya di rembukrakyat.psi.id.

Dewan Pembina Ridwan Kamil untuk Republik Indonesia (RKRI), Inge Suprayogi, mengatakan Indonesia membutuhkan pemimpin seperti Ridwan Kamil untuk melanjutkan kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab, Gubernur Jawa Barat itu dianggap berhasil memimpin keluarga dan politik.

“Kami yakin Indonesia sangat membutuhkan sosok Ridwan Kamil untuk meneruskan Pak Jokowi di 2024. Beliau berhasil memimpin satu keluarga dengan utuh, bisa memimpin Kota Bandung, kemudian berhasil di Provinsi Jawa Barat,” kata Inge dalam Rembuk Rakyat PSI “Membedah Ridwan Kamil” yang digelar Jumat, 25 Maret 2022.

Inge menambahkan, dukungan itu mengalir karena Ridwan Kamil telah menunjukkan prestasi konkret selama menjabat sebagai Wali Kota Bandung dan Gubernur Jawa Barat.  Karena itu, pada akhir Februari 2022, RKRI mendeklarasikan dukungan kepada Ridwan Kamil untuk maju di Pilpres 2024 mendatang.

“Di titik awal menjadi Wali Kota, Kota Bandung seperti memiliki seorang ayah, memiliki sosok yang mengayomi sehingga masyarakatnya bisa silih asah, silih asih, silih asuh, silih wangi. Silih wangi menjadi salah satu program Kota Bandung yang akhirnya dibawa ke Provinsi Jawa Barat, sehingga kita saling mewangi dan saling memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat,” imbuhnya.

Lebih jauh Inge melanjutkan, secara pribadi, dia mengaku kagum dengan kepribadian Ridwan Kamil, terutama kecintaan Ridwan Kamil kepada sang Ibu. Hal itu, sebut Inge, adalah modal penting untuk menjadi seorang pemimpin.

“Saya pribadi sangat kagum dengan kepribadian Kang Emil yang humble, hangat, spiritualnya juga sangat tinggi. Ini bukan hanya sebatas kata-kata. Yang paling penting adalah rasa hormatnya kepada sang Ibu, dan menjadikan contoh bahwa doa Ibu dan perkataan Ibu adalah sesuatu yang mustajab,” ucap Inge.

“Kang Emil memperlihatkan beliau sebagai anak yang panut, sehingga bagaimanapun mental seseorang yang mencintai seorang Ibunya akan menjadi seorang yang apik, rapi, dan telaten sehingga dia bisa memimpin suatu negeri atau dia memimpin suatu daerah,” tekannya.

Selain Inge, salah seorang sahabat Ridwan Kamil, Enda Nasution, turut hadir sebagai pembicara. Enda meyakini Ridwan Kamil bukan saja tokoh politik dengan rekam jejak yang sangat baik, lebih dari itu, dia merupakan pemimpin pemersatu bangsa karena mewakili kalangan nasionalis – religius dan populer di mata anak-anak muda.

“Kang Emil sosok yang merepresentasikan kalangan nasionalis – religius dan dekat dengan anak-anak muda. Jadi simbol itu yang membuat saya dan teman-teman, termasuk Teh Inge, yakin Ridwan Kamil bisa menjadi Presiden. Karena tadi, presiden bukan hanya soal kompetensi dan track record yang baik, tapi representasi dia yang menyatukan Indonesia,” ucap lulusan Teknik Sipil dari ITB itu.

Faktor penting dalam mencari calon presiden RI mendatang, menurut Enda, adalah siapa yang bisa menyatukan Indonesia.

“Kita sudah capek untuk harus terus diadu-adu gitu ya, kita harus mencari sosok siapa yang bisa menyatukan in. Kita melihatnya bahwa saat ini ada capres yang representasi dari nasionalis, ada capres yang representasi dari kaum religius, tapi Kang Emil bisa mewakili seluruh kelompok atau 2 pilar besar itu. Dia adalah seorang yang nasionalis, di sisi lain juga bagian kelompok yang religius,” tambahnya.

Dalam rembuk yang dimoderatori Juru Bicara DPP PSI, Ariyo Bimmo itu, Enda menyebut sejumlah prestasi gemilang Ridwan Kamil. Di antaranya adalah keberhasilan menggantikan proses lelang jabatan dengan implementasi big data. Inovasi dalam birokrasi ini, menurut Enda, bisa menutup celah korupsi dalam pengisian jabatan publik oleh ASN.

“Dia menciptakan big data sehingga tidak ada lagi istilah sistem lelang jabatan. Ridwan Kamil sebagai Gubernur sudah punya data seluruh ASN, sehingga ketika harus memilih siapa yang terbaik, berdasarkan apa, ini datanya. Sehingga mereka yang memang bekerja keras dan prestasinya baik adalah mereka yang mendapatkan reward dan jabatan yang lebih tinggi, dan itu baru terjadi hanya di Jawa Barat saja, menurut saya itu perubahan besar,” tuturnya.

Keberhasilan lain Ridwan Kamil yaitu program petani milenial. Lewat program ini, ujar Enda, membuat generasi milenial Jawa Barat yang mayoritas tersebar di wilayah pedesaan tidak harus mengadu nasib di kota dan menjadikan bertani sebagai profesi menjanjikan.

Disinggung soal komitmen antikorupsi dan anti-intoleransi, Inge dan Enda kompak menjawab Ridwan Kamil sebagai sosok yang bersih dan toleran. Bahkan, papar Inge, Ridwan Kamil menolak seluruh pemberian dalam bentuk apa pun disegala momen, termasuk bingkisan lebaran dan melarang anggota keluarganya memanfaatkan jabatan Gubernur demi berbisnis.

“Baru pertama kali saya lihat di Pendopo itu, misalnya di hari lebaran, ada tulisan besar di pintu Pendopo itu ‘tidak menerima pemberian apa pun’, kemudian seluruh keluarga dan orang terdekatnya dikumpulkan dan diajak ngobrol dengan orang-orang KPK untuk memberikan HP-nya dan tidak boleh ada bisnis dengan orang masuk ke wilayah pimpinan beliau,” urai Inge.

Sementara itu, Enda jelas menampik isu yang mengaitkan Ridwan Kamil dengan aksi-aksi intoleran di Jawa Barat. Menurutnya, tuduhan itu tak punya dasar dan bertolak belakang dengan pribadi Ridwan Kamil yang moderat.

“Itu memang jadi sebuah risiko sebagai seorang moderat seperti Kang Emil. Di sana menganggap musuh, di sini juga dijadikan musuh,” tandas Enda. *(Elisa Nurasri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here