SUMEDANG — pelitainvestigasi.com. Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi berkah bagi pemenuhan gizi generasi muda, justru berujung petaka di SMAN Tomo, Kabupaten Sumedang. Pada Selasa, 8 September 2026, belasan siswa dilaporkan jatuh sakit dan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap hidangan makan siang sekolah yang disuplai oleh pihak ketiga (vendor).
Berdasarkan data yang dihimpun tim redaksi, sedikitnya 13 siswa berasal dari berbagai wilayah — termasuk Majalengka dan Indramayu yang menempuh pendidikan di SMAN Tomo — mengalami gejala mual, pusing, dan muntah hebat. Mereka terpaksa mendapatkan perawatan darurat. Berikut daftar nama dan asal para siswa yang menjadi korban:
No Nama Siswa Alamat / Asal Domisili Wilayah Kabupaten
1 Kusuma Dewi Mekar Jaya, Kertajati Kab. Majalengka
2 Seli Dusun Kokoncong, Desa Tolengas, Kec. Tomo Kab. Sumedang
3 Milani Mekar Jaya, Kertajati Kab. Majalengka
4 Tania Dewi Kec. Tomo Kab. Sumedang
5 Karina Mekar Jaya, Kertajati Kab. Majalengka
6 Saripa Kec. Jatigede Kab. Sumedang
7 Nanda Rulita Dusun Cikoang, Desa Sakurjaya, Kec. Ujungjaya Kab. Sumedang
8 Dinda Dusun Balarante, Kec. Ujungjaya Kab. Sumedang
9 Listro Sitoh Legok Kab. Sumedang
10 Anisa Kamurang Kab. Indramayu
11 Seli Cikoang Cikoang, Kec. Ujungjaya Kab. Sumedang
12 Jihan Kec. Tomo Kab. Sumedang
13 Anggi Dusun Bantargintung, Kec. Tomo Kab. Sumedang


Petaka ini bermula setelah para siswa mengonsumsi menu hidangan berupa nasi ayam dan sayur sawi,pecai yang disuplai oleh pihak vendor penyedia jasa makanan. Dugaan kuat mengarah pada kelalaian fatal dalam aspek pemrosesan dan higienitas makanan. Sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan mengindikasikan bahwa standardisasi penyimpanan bahan baku — khususnya daging ayam dan pengelolaan sayuran — diduga tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan.
“Daging ayam rentan terkontaminasi jika tidak dimasak sempurna atau dibiarkan terlalu lama di suhu ruangan. Begitu pula sayur sawi, jika penanganan dan distribusinya keliru bisa memicu zat beracun. Ini jelas bentuk kecerobohan vendor yang hanya mengejar kuantitas tanpa memedulikan keselamatan konsumen,” ujar seorang pengamat kebijakan publik setempat saat dimintai tanggapan tim redaksi.

Kasus ini sekaligus membuka kotak pandora terkait lemahnya pengawasan di tingkat bawah. Publik kini mempertanyakan komitmen dan fungsi kontrol dari instansi serta otoritas terkait yang bertanggung jawab atas jalannya program MBG ini. Bagaimana mungkin makanan yang tidak higienis dan berpotensi berbahaya bisa lolos sampai ke meja makan siswa tanpa proses pemeriksaan kualitas yang ketat terlebih dahulu? Lemahnya pengawasan berlapis, mulai dari pengecekan di dapur produksi hingga pos pendistribusian di sekolah, dituding menjadi penyebab utama celah ini terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak agar aparat penegak hukum dan Dinas Kesehatan segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan secara transparan. Pihak-pihak terkait, baik vendor yang dinilai lalai maupun oknum pengawas yang dinilai ‘tutup mata’, harus dimintai pertanggungjawaban hukum secara tegas demi keselamatan ribuan siswa lainnya. (Tim Redaksi Pelita Investigasi)











