Home Daerah Paguyuban Siliwangi Maja Kuning Bersama Pelajar Pecinta Alam Tanam 1.000 Pohon Endemik...

Paguyuban Siliwangi Maja Kuning Bersama Pelajar Pecinta Alam Tanam 1.000 Pohon Endemik di Bumi Perkemahan Blok B5 TNGC

101
0

Majalengka-(PI). Semangat gotong royong Paguyuban Siliwangi Maja Kuning kembali diwujudkan melalui aksi nyata pelestarian alam. Rabu (11/2/2026), paguyuban ini menggandeng KTH Majalengka binaannya, siswa pecinta alam dari MAN 1 Majalengka dan SMA Negeri 1 Talaga, aparat pemerintah dan masyarakat sekitar menanam seribu bibit pohon endemik di kawasan Blok B5 Bumi Perkemahan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) wilayah Majalengka.

Kegiatan bertajuk “Sedekah Alam untuk Melestarikan Hutan Hijau” ini menegaskan komitmen Paguyuban Siliwangi Maja Kuning terhadap kelestarian TNGC. Setiap KTH Majalengka yang terlibat aktif melakukan persiapan bibit, menentukan titik tanam dan memantau pasca-penanaman sebagai bagian dari sistem pengelolaan hutan partisipatif berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

Penanaman dilakukan secara terstruktur dengan metode titik tanam yang telah dipetakan bersama anggota KTH agar setiap pohon memiliki ruang tumbuh optimal dan minim risiko kompetisi unsur hara. Lima pohon endemik ditanam di pintu masuk Bumi Perkemahan Blok B5 sebagai simbol kolaborasi. Satu pohon ditanam oleh perwakilan Paguyuban Siliwangi Maja Kuning yang diwakili Ketua KTH setempat, dan empat pohon lainnya ditanam oleh Forkopimcam Talaga yang diwakili perwakilan yang ditunjuk, karena pejabat yang bersangkutan sedang mengikuti kegiatan di luar kabupaten atau menghadiri kegiatan lain di lingkup pemerintah daerah.

Jenis pohon yang ditanam meliputi Ki Jamuju, Picung, Caringin, Huru Gunung, Sampang, Ki Beusi dan Jajawai, yang merupakan spesies asli TNGC. Pohon-pohon ini memiliki peran penting dalam menjaga kesuburan tanah, mencegah erosi, menopang siklus hidrologi, dan menyediakan habitat bagi satwa liar endemik.

Ketua Paguyuban Siliwangi Maja Kuning, Nanang, menegaskan bahwa penanaman pohon adalah wujud tanggung jawab kolektif yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.

“Bagi kami, menanam pohon bukan sekadar menambah hijauan. Ini adalah sedekah yang menjaga air, tanah, dan udara agar ekosistem tetap seimbang. Yang membedakan gerakan kami adalah keterlibatan aktif KTH Majalengka sebagai ujung tombak di lapangan. Mereka yang setiap hari menjaga, memantau, dan merawat hutan ini,” ujarnya.

Nanang menambahkan bahwa pelestarian hutan tidak berhenti pada hari penanaman.

“KTH secara berkala melakukan patroli partisipatif, mencegah perambahan, serta mendampingi masyarakat dalam praktik agroforestri ramah lingkungan. Kami juga melibatkan generasi muda agar estafet kepedulian ini tidak putus. Pelestarian TNGC adalah tanggung jawab bersama yang dijalankan dengan struktur komunitas yang kuat,” terangnya.

Dalam dua tahun terakhir, Paguyuban Siliwangi Maja Kuning bersama jaringan 28 KTH di Majalengka dan Kuningan telah menanam hampir 100.000 pohon endemik di desa-desa penyangga. Konsistensi ini menunjukkan bahwa pelestarian berbasis paguyuban dan KTH bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan terstruktur yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari petani hutan, pelajar, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah.

Melalui gerakan “Sedekah Alam”, Paguyuban Siliwangi Maja Kuning bersama KTH Majalengka membuktikan bahwa kelestarian hutan dapat diwujudkan melalui kekuatan komunitas yang terorganisir. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi kokoh bagi keberlangsungan TNGC dan memastikan kawasan tetap hijau serta lestari bagi generasi mendatang.

Liputan (Ivan & Nano)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here