Home Daerah Air PDAM Keruh Berbulan-bulan, Warga Pasir Karembi Geram: “Untuk Mandi Saja Tidak...

Air PDAM Keruh Berbulan-bulan, Warga Pasir Karembi Geram: “Untuk Mandi Saja Tidak Layak”

40
0

Subang-(PI). Kondisi air PDAM yang keruh selama berbulan-bulan memicu keluhan masyarakat Kelurahan Pasir Karembi, Kabupaten Subang. Warga mengaku kecewa karena air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru dinilai tidak layak digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Keluhan tersebut mencuat dalam forum audiensi antara masyarakat, Forum RT/RW, Forum Pelanggan, pihak kelurahan, dan jajaran PDAM Subang yang digelar di aula Kelurahan Pasir Karembi, Selasa (12/05/2026).

Lurah Pasir Karembi, Rizal Prihandoko, mengatakan pihaknya menerima banyak pengaduan masyarakat terkait kualitas air PDAM yang keruh.

“Kami hanya memfasilitasi masyarakat agar bisa menyampaikan langsung keluhan kepada pihak PDAM, khususnya kepada bapak Dirut PDAM Subang,” ujarnya di hadapan warga dan tokoh masyarakat.

Dalam forum tersebut, salah seorang warga menyampaikan kekecewaannya karena kondisi air yang dinilai sudah sangat mengganggu kebutuhan rumah tangga. “Kami sangat membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Jangankan untuk diminum, untuk mandi saja saya rasa sudah tidak layak,” keluh warga.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama PDAM Subang, Lukman Nurhakim, mengakui adanya persoalan kualitas air yang dialami sebagian pelanggan di wilayah Subang.

Menurutnya, sekitar 20 persen pelanggan terdampak akibat sumber mata air Cibulakan mengalami kekeruhan tinggi saat musim hujan. “Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi faktor lingkungan di wilayah atas seperti galian tanah maupun pembalakan hutan sehingga rembesan air ke mata air tidak tersaring sempurna,” jelasnya.

Pihak PDAM mengklaim telah membangun Water Treatment Plant (WTP) untuk menangani persoalan tersebut. Namun kapasitas pengolahan baru mampu mengatasi sekitar 60 persen tingkat kekeruhan. Sementara sisanya masih dalam tahap penyempurnaan menggunakan sistem filter tambahan yang diperkirakan membutuhkan waktu dua minggu hingga satu bulan.

Dirut PDAM juga mengakui keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam penanganan maksimal. “Untuk pembangunan WTP baru dibutuhkan anggaran sekitar Rp14 miliar. Sampai saat ini bantuan dari APBD maupun APBN belum ada,” katanya.

Meski demikian, pihak PDAM berjanji akan memberikan kompensasi kepada pelanggan terdampak melalui pengurangan tagihan berdasarkan volume air keruh yang tidak dapat digunakan masyarakat.

Audiensi tersebut berlangsung cukup serius. Warga berharap persoalan air keruh tidak lagi menjadi masalah berkepanjangan dan meminta PDAM segera menghadirkan solusi nyata, bukan hanya janji penanganan sementara. (Akung Permana )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here